Selamat Datang Hujan…

Musim hujan sudah mulai datang. Ada baiknya kita memberikan perhatikan yang lebih dengan kesehatan.  Bukankah kesehatan mahal harganya ? Lagipula, siapa sich yang pengin sakit ? Untuk menjaga agar stamina tetap vit, banyak cara yang digunakan. Mulai dari olahraga sampai dengan mengkonsumsi suplemen food. Hmm…suplemen food ? Boleh juga, tapi menurut saya pribadi kalau ada yang alamiah itu lebih baik. Wortel misalnya. Buah yang mudah didapat dengan harga terjangkau tetapi kaya manfaat. Selain untuk sayur sup, untuk masker wajah, wortel juga mengandung vit A dan bisa untuk menjaga stamina tubuh dengan menjadikannya jus. Caranya, ambil beberapa buah wortel (sesuai kebutuhan), kupas kemudian cuci sampai bersih. Kemudian wortel kita parut. Agak repot memang, setelah itu hasil parutan kita peras ke dalam gelas dengan menggunakan saringan. Disini saya sengaja tidak menggunakan blender, supaya jus-nya tidak tercampur dengan air. Hasil parutan memang lebih sedikit dibanding kalau kita menggunakan blender. Tapi lebih murni. Benar-benar hanya perasan wortel. Selanjutnya, kita ambil satu sendok madu dan kita campur ke dalamnya. Aduk-aduk sebentar, dan jus wortel madu sudah siap kita minum. Jika kompasianer suka dengan jus wortel yang dingin, bisa kita masukkan ke lemari es beberapa saat.

Jus wortel madu ini bisa kita minum dua kali seminggu atau setiap hari. Pada pagi, siang, sore bahkan malam hari sebelum tidur.  Dijamin tidak ada efek samping. Semoga tips sederhana ini bermanfaat.

Salam sehat dan selamat beraktifitas…

 

Posted in Kesehatan | Comments Off on Selamat Datang Hujan…

Awas…di Sosor Bebek

Memang bebeknya galak ya ? Kok nyosor-nyosor begitu.  Kalau memang galak yaaa… lariiiiiiii…Eits ! Tunggu dulu.  Bebek yang satu ini lain dari yang lain. Nama latinnya saja Kalanchoe Pinnata Pers, sedang nama katroknya Sosor Bebek. Mengapa bisa begitu jauh bedanya ya ? Ya…harap maklum. Lidah Jawa dan lidah Latin (sstt…termasuk lidah saya). Hahaha…

Setelah buka-buka buku tentang tanaman obat dan search Mbah Google, ternyata di National Center for Biotechnology Information menyebutkan bahwa bufadienolides yang terdapat pada sosor bebek bersifat antitumor. Huah…sebegitukah ? Wow…justru lebih dari itu. Selain mengandung antitumor, sosor bebek juga mempunyai sifat anti radang, bisa menghentikan perdarahan, mengurangi pembengkakan, mempercepat penyembuhan luka, bisa mengatasi masalah pencernaan, muntah darah dan gangguan pada telinga maupun tenggorokan. Masih ada lagi nich manfaatnya. Yaitu bisa mengatasi luka, memar ataupun pendarahan.

Masyarakat di Kepulauan Bahama sering menggunakan daun sosor bebek untuk mengatasi gangguan asma. Sedang teh sosor bebek diminum untuk mengatasi rasa terbakar di bagian dada. Karena teh tersebut sebagai antibakteri bagi luka memar atau luka lainnya.

Untuk mengobati luka, ambilah daun sosor bebek secukupnya lalu diparut atau ditumbuk. Tambahkan sedikit air dan balurkan pada bagian yang luka. Gantilah tiap tiga jam sekali.

Kalau untuk menurukan demam, caranya ambil beberapa daun sosor bebek. Tumbuk lau balurkan pada dahi dan digunakan dua kali sehari.

Untuk Bisul atau memar, caranya ambil daun sosor bebek 30 -60 gram, tumbuk halus lalu peras. Tambahkan madu dan diminum. Sisa-sisa daunnya bisa ditempelkan pada bagian yang sakit.

Sedang untuk radang telinga luar, caranya ambil daun sosor bebek 5-10 lembar. Ditumbuk lalu diperas. Air perasantadi digunakan untuk obat tetes telinga.

Untuk radang amandel, caranya ambil 5-10 lembar daun sosor bebek. Ditumbuk lalu diperas dan air perasannya untuk kumur-kumur.

ini dia si sosor bebek (dok. pri)

Dengan melihat begitu banyaknya  manfaat yang didapat, tidak ada salahnya kalau kita menanam sosor bebek di halaman rumah atau pot kita karena tanaman ini mudah perawatannya.

Semoga bermanfaat dan selamat berkebun…

Posted in Kesehatan | Comments Off on Awas…di Sosor Bebek

Banyu Leri (Opo Kuwi… ?)

Yen bar mususi beras, banyune ojo diguwang. Nggonen nyirami wit woh-wohan. Ben wohe legi tur ora kaku (kalau selesai mencuci beras, airnya jangan dibuang begitu saja. Buat nyirami pohon buah bagus. Supanya buahnya manis dan tidak kaku).

Kalimat itu sering saya dengar dari Ibu sewaktu saya kecil. Dan saya menurut saja, hingga  sekarang masih saya jalani. Ternyata memang terbukti kebenarannya. Di Jawa air cucian beras dinamakan banyu leri. Entah dalam banyu leri itu mengandung senyawa apa. Tanaman buah yang saya punya rasanya manis. Hanya karena rajin saya siram dengan bayu leri dan air saja dan tidak pernah menggunakan pupuk urea.

1349836000145794921

srikaya-ku yang manis (dok. pri)

Begitu juga dengan tanaman tomat saya. Buahnya tidak kaku. Duh senengnya…melihat dia tumbuh subur. Tadi pagi saya petik satu. Untuk pelengkap sarapan nasi goreng. Tomat dari halaman sendiri dan non organik.

1349836646594946149

 1349836401386380623sarapan dulu yukkk…(dok. pri)

Semoga tips sederhana ini bermanfaat…

Salam…

 

 

Posted in uncategories | Comments Off on Banyu Leri (Opo Kuwi… ?)

Elinga, Ngger… (Ingatlah, Nak…)

Lengger adalah sebuah kesenian rakyat yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah. Pada awalnya Lengger merupakan kesenian (dalam hal ini  tarian ritual), karena berfungsi untuk tolak bala atau ruwatan. Lengger, merupakan singkatan dari kata “elinga dan ngger ” atau ingatlah nak. “Eling-eling, manungsa. Manawa urip kudu eling lan waspada. Manawa ngesuk awake dhewek mati, bakal dijaluki tanggung jawab neng alam kana ” Artinya, hai manusia. Bahwa hidup harus selalu ingat, waspada dan hati-hati. Suatu saat kita akan mati dan akan dimintai pertanggungjawaban di alam baka.Tetapi ada juga istilah lain, bahwa Lengger berasal dari kata “ledek” yang berarti penari dan “geger” yang berarti membuat ramai. Sehingga Lengger dapat juga dimaknai dengan penari yang mampu mengundang keramaian. Kesenian Lengger pernah digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menarik para pemuda agar rajin ke masjid.

lengger banyumas dan calung (ft by putri)

Dalam pementasannya Lengger Banyumasan tidak terlepas dari calung. Yaitu gamelan yang berasal dari bambu. Perangkat gamelan calung terdiri dari gambang barung , gambang penerus, dhendhem, kenong dan gong. Semua terbuat dari bambu wulung, yaitu bambu yang berwarna hitam. Sedangkan kendhang (gendang) seperti gendang biasa, Dahulu penari Lengger adalah pria yang berdandan seperti wanita, namun kini penarinya perempuan dengan busana yang sederhana. Yang terdiri dari sanggul, kemben atau mekak, sampur (selendang) yang dikalungkan  kedua bahu serta jarik yang diwiru. Yaitu lipitan kecil-kecil bolak-balik kira-kira dua jari sebanyak 8 – 12 yang terletak di tengah depan. Dan efek lipatan wiron akan semakin indah ketika penari bergerak. Adapun perhiasan yang dipakai adalah cundhuk mentul (kembang goyang), bunga melati, kalung, giwang dan gelang. Sedangkan penabuhnya menggunakan iket, sorjan dan celana gombrong. Untuk busana sindhen menggunakan sanggul, kebaya dan jarik.

salah satu gerakan lengger (ft by putri)

Hampir semua penari Lengger bisa nembang. Gerakan tari Lengger mengikuti iringan calung yang  dinamis ditambah dengan gerakan pinggul khas Lengger sehingga terlihat sangat menggemaskan. Dalam satu grup calung minimal terdiri enam orang penabuh ditambah satu orang sinden. Sedangkan penari bisa dua orang atau lebih. Di sela-sela sajiannya, penari kadang  mengalungkan sampur baik sampur yang sedang dipakai atau yang sudah disiapkan kepada penonton (bisa laki-laki atau perempuan) untuk diajak menari bersama.

para penari lengger (ft by putri)

Walaupun sampai saat ini tari Lengger bisa dipentaskan pada acara hajatan, hari besar, tasyakuran ataupun pesta rakyat, namun kedepannya perlu dipikirkan bagaimana caranya agar generasi penerus kesenian Lengger tetap bisa eksis dalam menghadapi perkembangan jaman. Karena “sebuah karya seni diciptakan manusia sebagai bentuk ekspresi budaya dan merupakan ungkapan sosialnya, sehingga karya seni diciptakan oleh manusia tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri tetapi juga untuk kebutuhan orang lain ” (Wadiyo, 2006 : 141).

Salam budaya…

Posted in Sosial Budaya | Comments Off on Elinga, Ngger… (Ingatlah, Nak…)

Ludiro Madura ya Ludira Madu ya Darah Madura

Tari srimpi adalah “produk” karaton Kasunanan Surakarta yang konon  penarinya harus perempuan yang belum menikah, tidak sedang haid dan masih virgin baik pada waktu latihan maupun saat pentas. Namun, seiring perkembangan jaman, tarian srimpi yang dahulu hanya “hidup” di dalam tembok kraton sekarang sudah tidak lagi. Materi tari srimpi sudah masuk dalam mata kuliah (praktek) wajib di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Sehingga kita bisa menyaksikan tari srimpi baik pada saat ujian pembawaan atau ujian tugas akhir di ISI Surakarta,  menjadi sajian pada waktu ada tamu lembaga (instansi) ataupun pada waktu hajatan.

srimpi ludiro madu dlm gerak jengkeng sembahan (ft by ika)

srimpi ludira madu pola lantai jejer wayang (fy by ika)

srimpi ludira madu mundur beksan (ft by ika)

Tari srimpi ditarikan oleh empat penari putri yang masing-masing penari mempunyai jabatan. Yaitu batak, dulu, dhaha dan buncit. Tapi menurut kanjeng Brotodiningrat, komposisi penari srimpi melambangkan empat unsur dunia, yaitu grama (api), angin (udara), toya (air) dan bumi (tanah). Keblat papat lima pancer (empat penjuru mata angin dan aku (manusia) sebagai porosnya. Adapun ciri khas tari srimpi adalah geraknya yang lembut dan mengalir sesuai dengan iringan gendhingnya.

Sedangkan tari Srimpi Ludiro Madu adalah pisungsun (karya) Paku Buwono V yang waktu itu masih menjadi putra mahkota kraton Kasunanan Surakarta yang bergelar Kanjeng Gusti Adipati Anom (KGPA). Tari ini pada awalnya bernama tari Srimpi Ludira Madura. Ludira = darah yang berati darah Madura. Karena  tari ini diciptakan untuk mengenang ibunya, Amengkunegara III yang masih  mempunyai garis keturunan Madura. Karena sang ibu adalah putri Adipati Cakraningrat, Bupati Pamekasan. Untuk selanjutnya tari ini lebih dikenal dengan nama tari Srimpi Ludiro Madu.

rajamala di dalam museum radyapustaka (ft search google)

Pada waktu itu ketika melamar putri Adipati Cakraningrat, Kraton Kasunanan Surakarta menggunakan kapal Rajamala. Dengan maksud supaya dihindarkan dari segala mara bahaya dan hal-hal buruk lainnya. Sampai saat ini Rajamala tersebut masih berada di museum Radyapustaka dan terawat dengan baik. Setiap malem selasa kliwon dan malem jumat kliwon selalu diberi sesaji. Kata salah seorang pegawai museum , “jika lupa tidak diberi sesaji Rajamala itu akan mengeluarkan bau anyir”.

Srimpi Ludiro Madu menggambarkan pesona Amengkunegara III seperti yang tertulis dalan cakepan gendhingnya berikut ini :

1. Mideringrat angelangut, lalana njajag nagari

     mubeng tepining samodra, sumengka anggraning wukir

     analasak wana wasa 2x, tumuring jurang trebis

  2. Sayekti kalamun suwung, tangeh miriba kang warni

lan sira pupujaningwang, manawa dhasaring bumi

      miwah luhuring akasa-akasa 2x, tuwin jroning jalanidhi

 3.  Iku ta sapa kang weruh, nanging kiraning tyas mami

      sanadyan ing tri bawana, ana ingkang madha warni

      maksih sumeh semu nira 2x, lurus larasing respati

    4. Myang dedeg pangadegipun, sedheng sedhete mantesi

         sembada genging sarira, lelawane milangoni

        wiraga raga karana 2x, murweng dyah yangyanging bumi

*Sindhenan Srimpi Gendhing Ludiramadu kethuk 4 kerep minggah Kinanthi ketuk 4, suwuk buka celuk Ladrang Mijil Ludira, laras pelog pathet barang*

( diambil dari penggalan Gendhing dan Sindenan Bedhaya Srimpi karya Martopangrawit)

Posted in Seni Budaya | Comments Off on Ludiro Madura ya Ludira Madu ya Darah Madura

Mawar, Terima Kasih Atas Sharing-nya Yang Luar Biasa Ini…

“Selamat siang, Mawar ada, Mbak ?”

“Sebentar ya…” jawab si Mbak. “ Mawar…ada yang mencari “

Tak berapa lama Mawar keluar dan…”hai…” katanya keluar dari teras rumah sambil tersenyum ke arahku. Yah…Mawar adalah salah satu temanku yang sedikit berbeda dengan yang lain. Karena dia maaf waria. Dan Mawar bukan nama asli femininnya. Nama itu hanya untuk menyembunyikan identitas aslinya. Kami kenal sejak tahun 1994, ketika sama-sama kuliah di salah satu PT di Solo. Pada awalnya saya tidak pernah bertegur sapa, karena ada perasaan takut dengan seorang waria. Tapi ketika ada tugas-tugas kelompok yang mengharuskan kami berkomunikasi, kami jadi semakin akrab. Tidak jarang saya mengantar dia pulang. Kebayang nggak, saya yang sebesar ini memboncengkan laki-laki dengan tinggi kira-kira 170 –an cm. Mana boncengnya miring lagi. Hadew…

Setelah kami duduk di ruang tamu, mulailah kami bercerita tentang aktivitas kami akhir-akhir ini. Walau kami masih satu kota dengan lokasi rumah yang tidak begitu jauh, kami memang jarang sekali ketemu. Ah…ternyata ngangenin juga dia. Sekarang pekerjaannya merias pengantin disamping masih jual bubur, nasi pecel maupun sup matahari setiap pagi.

Katanya, “ soal budget rias, aku fleksibel kok. Misalnya ada yang mau ngasih job aku kalau dia orang tidak mampu, aku berusaha tetap bisa melayani. Dan yang tidak kalah penting, aku bilang kondisiku yang sebenarnya. Supaya tidak ada masalah di hari H-nya. Kalau tetap mau aku rias, ya jalan, tapi kalau tidak ya tidak apa-apa. Bulan depan aku dapat job ke Pekalongan. Padahal kalau naik bus, baru jalan beberapa kilo saja kepalaku pusing dan perut terasa diaduk-aduk. Duh gimana ya ?”

“Wah…parah nich. Badan segedhe gitu mabukan. Besok, jadi ke Pekalongan bawa tas plastik hitam yang banyak. Siapa tahu bisa dibuat sup matahari,” kataku.

Katanya,” hiii…kamu jorok”. Kamipun tertawa lepas dengan banyolan-banyolan kami. Akhirnya saya beranikan bertanya, “Mawar bagaimana awalnya kamu bisa begini ?”

Diapun mulai bercerita,” Ibu saya sebenarnya punya anak berjumlah 17. Tapi yang bisa dimong (hidup) hanya sembilan.. Saya sendiri anak nomer 14. Kakakku persis laki-laki, kemudian saya dan adikku laki-laki. Dan sekitar dua tahun yang lalu, adikku itu meninggal. Karena kehidupan saya serba kekurangan, waktu itu pikiran Ibuku daripada baju-baju kakakku yang perempuan dibuang mending dipakaikan saya. Walaupun sebenarnya Ibu tidak bermaksud membuat saya seperti ini. Ternyata hal tersebut punya dampak psikologis yang luar biasa bagi saya. Saya tidak pernah bermain tembak-tembakan dan tidak suka bermain dengan anak laki-laki. Saya lebih suka bermain lompat tali, main pasar-pasaran dengan teman-teman perempuan saya. Begitu juga ketika sudah mulai masuk sekolah. Meski saya memakai celana pendek, tapi tetap bermain dengan anak-anak perempuan “.

“Kamu khitan nggak dan kalau sholat Jum’at bagaimana ?”

“Dulu sekitar kelas empat atau lima SD, pada waktu liburan sekolah pernah saya mau di khitan. Tapi saya nggak mau sampai nangis-nangis. Karena saya merasa saya ini perempuan. Kalau soal sholat, saya tidak pernah sholat di masjid. Dulu pernah, saya sholat pake sarung. Tapi rasanya aneh. Akhirnya diam-diam saya beli mukena. Saya sholat sembunyi-sembunyi. Dan saya merasa lebih nyaman memakai mukena. Sampai pada akhirnya saya sholat tidak sembunyi-sembunyi lagi, walaupun masih tetap di dalam rumah”.

“Mawar, kamu punya komunitas nggak ?”

“Nggak. Karena kebanyakan yang ikut komunitas itu nggak bener, kasar. Mereka sering mangkal, kalau punya salon ya hanya untuk kamuflase. Masa’ngakunya perempuan kalau ada cowok lewat kok di suit-suit dan ditepokin. Jeng, pernah saya berumah tangga dengan laki-laki sekitar empat tahun. Wajahnya biasa tapi badannya tegap tinggi besar. Itu yang membuat saya jatuh cinta. Saya kenal dia ketika dia membeli bubur. Setelah itu dia nekat mencari rumah saya dan mengeluarkan rayuan – rayuannya. Begitu memutuskan untuk pacaran, dia saya kenalkan dengan saudara saya yang Brimob dengan maksud supaya dia tidak berani macem-macem dengan saya. Karena kalau orientasinya hanya sex saya nggak mau. Karena takut pulang, saya ngontrak rumah. Dia bilang kalau dia nganggur. Saking cintanya makan, pakaian sampai rokok saya yang tanggung. Seolah-olah yakin dengan cinta dan kesetiannya, dia saya kenalkan dengan Ibu. Awalnya keluarga saya keberatan, tapi saya berusaha meyakinkan. Akhirnya Ibu bisa menerima, yang penting saya tidak neko – neko dan tidak membuat malu keluarga. Dan kamipun pindah dari kontakan untuk tinggal di rumah Ibu. Di tengah perjalanan, akhirnya dia ngaku kalau dia punya istri yang sedang kerja di Malaysia dan punya anak satu. Keluarganya tinggal di luar kota Solo. Pernah dia nyuri uang saya sekitar satu juta hanya untuk kencan dengan lonthe. Sakitttt rasanya. Tapi saya masih memaafkan dia. Hingga suatu ketika, saat saya pergi dia main ke rumah dan berani masuk ke kamar Ibu. Ketika saya datang, begitu masuk kamar seluruh pakaiannya tidak ada. Dan uang saya yang saya titipkan Ibu juga tidak ada. Jumlahnya ada Rp. 3.500.000,-. Tak berapa lama setelah kejadian itu, dia masih berani telpun atau sms saya. Dia minta maaf dan ingin kembali ke saya. Tapi saya tidak mau. Terlanjur sakit. Perasaan saya hancur, saya dikhianati. Ternyata dia hanya butuh uang saya. Pelan-pelan saya mulai bangkit. Dan sekarang saya jauh lebih baik. Saya tidak mau mikir cinta lagi. Sekarang saya sudah tidak muda lagi. Yang penting saya kerja halal, tidak menyusahkan orang lain, sukur-sukur bisa membantu meringankan beban. Itu sudah cukup. Pernah suatu ketika, waktu ngrias pengantin ada anak kecil yang bilang hei banci kaleng…banci kaleng. Misalnya jelas – jelas ada orang tidak bisa melihat, terus diteriakin hey buta loe…buta loe. Coba bagaimana perasaanya ? Tapi saya tidak emosi, Jeng. Saya samperin anak itu dan saya beri tahu baik-baik sampai Ibunya sendiri yang malu.”

“Mawar, sampai saat ini kamu menyesal nggak dengan kondisimu ?”

“Tidak, Jeng. Justru saya malah berterima kasih. Karena saya bisa merasakan dua karakter sekaligus. Kalau kamu (saya maksudnya) kan hanya bisa merasakan diri sebagai perempuan, tapi kalau saya bisa merasakan laki-laki dan perempuan. Walaupun secara fisik saya laki-laki tapi jiwa dan perasaan saya perempuan. Saya bisa memanage sedemikan rupa perasaan laki-laki saya ketika muncul. Terutama saat saya naksir laki-laki. Karena kalau laki-laki naksir perempuan, biasanya lebih agresif, pikirannya ke arah sex dan saya tidak boleh seperti itu. Karena saya perempuan. Saya malu. Jeng, saya tidak ingin dipuji dengan keadaan saya sekarang. Orang seperti saya ini hanya ingin dihargai. Karena bagaimanapun saya juga punya manusia yang punya perasaan. Masalah dosa atau tidak, halal haram biarlah Tuhan yang menentukan. Karena orang yang tingkat religinya tinggi pun belum tentu sebaik yang terlihat.”

Berhubung ada tamu yang mencari Mawar, sayapun segera beranjak dan pamit pulang.

Posted in Catatan Harian | Comments Off on Mawar, Terima Kasih Atas Sharing-nya Yang Luar Biasa Ini…

Sejenak Bersenandung dengan Suara Alam

sejuknya air kali samin (dok. pribadi)

Suasana liburan Lebaran masih terasa. Banyak hal yang dilakukan untuk mengisinya. Mumpung sanak saudara berkumpul dan bersilaturahmi. Ada yang berlibur ke laut, atau ke rumah makan sekedar makan bersama dengan keluarga besar. Begitu juga dengan saya. Tak ingin melewatkan liburan Lebaran tahun ini, kami pergi ke pegunungan. Tawangmangu. Tapi…kali ini tidak ke Grojogan Sewu. Karena disana pasti rameeee…banget. Kami ke Griya Tawang, salah satu tempat di Tawangmangu yang saya anggap menarik dan pas untuk bersantai dengan keluarga. Lebih tepatnya Griya Tawang, Jalan Raya Tawangmangu Km. 34 Kalisamin, Desa Ngeblak, Sumokado-Karanganyar. Sebuah lokasi yang bisa untuk edukasi sambil menikmati aneka menu dengan latar belakang kali (sungai Samin). Hanya kalau kita kesana pada waktu musim hujan, supaya lebih berhati-hati. Karena aliran airnya lebih deras.

Tempat ini buka dari jam 08.00 – 17.00 wib. Kecuali jika ada tamu yang menginap, Griya Tawang buka sampai malam. Jika kita kesana hanya sekedar santai dan menikmati menu-menunya, ada banyak gubug yang disediakan dengan nama – nama yang unik. Misalnya omah gedhe, omah kidang (rumah kijang) dll. Yang membedakan lokasi ini dengan lokasi lain adalah minumannya. Ada wedang beras kencur, kunir asem, sere(serai), jahe, maupun teh dengan gula batunya. Cara penyajiannyapun juga unik. Mengambil nasinya dengan menggunakan bathok (bagian dari kelapa), menu yang dipilih ditempatkan di tampah (semacam baki yang terbuat dari bambu dan berbentuk bulat) dengan dialasi daun pisang. Tempat menyimpan minuman dari ceret (teko kecil yang jadul). Kali ini kami mencoba paket 2 orang dengan menu nasi putih satu bakul kecil, ayam bakar (ayam kampung lho…) dengan sambel lalap + tahu tempe dengan minuman sere (serai). Hanya Rp. 50.000,- (murah kan…). Kalau mau nambah menu ada banyak pilihan. Memang…masaknya lumayan lama. Eits…jangan mengeluh dulu. Karena dengan bermain air di sungai Samin yang dingin dan banyak bebatuannya, hal tersebut tidak terasa.

kebagian dapat gubug omah kidang (dok. pribadi)

sajian wedang sere dng teko jadulnya (dok. pri)

pilihan menu makan siang yang nyamleng (dok pri)

sambil nunggu pesenan makanan bisa main air dulu (dok. pri )

Jika anda kesana dalam rangka meeting, ada juga menu paket dari Rp. 20.000,-/orang –45.000,-/ orang. Misalnya paket mawar yang Rp. 20.000,- dengan menu : air putih, teh/sere/jahe, snack tradisional/modern, nasi putih, sayur ( sop, sayur asem, lalapan, trancam), ayam goreng atau kakap goreng/bakar dan sambal.

Selain itu, ada juga lokasi outbond untuk anak TK, SD, SMP (mak usia 15 thn). Ada paket nangka Rp. 50.000,- /anak dengan rincian : cooking class (memasak snack tradisional), 3 fun games, coffe break dan makan siang. Paket alpukat Rp. 65.000,-/anak dan paket durian Rp. 75.000,-/anak. Sedang untuk outbond dewasa, ada dua (2) paket. Yaitu paket sere Rp. 60.000,-/orang dengan durasi 5 jam, snack pagi terdiri dari teh dan snack. Adapun materi outbond sebagi berikut : estafet belut, water transfer, tarik tambang, tangkap belut, 1 fun game dan makan siang. Dan satu lagi paket jahe Rp. 70.000,- /orang. Ada juga beberapa pilihan untuk fun games, yaitu : estafet karpet, water transfer, pipa bocor, mengambil balon di kolam, tangkap ikan, kolam lumpur, circle games dan water expance.

Bagaimana…? Cukup beragam pilihan bukan ? Nah…jika liburan ke Solo, sempatkan ke tempat ini. Udara sejuk, tempat nyaman, pelayanan ramah sambil menikmati indahnya alam pegunungan dengan gemeriknya air sungai bersama orang- orang terkasih tentunya.Hmm…mak clesssss…..

 

Posted in Jalan-jalan | 1 Comment

Terinspirasi dari Keindahan Bulu dan Kelincahan Geraknya

busana tari merak (by dian respati)

Siapa tak kenal burung merak ? Salah satu ciptaan Sang Khalik yang mempunyai keindahaan pada bulunya. Apalagi bagi merak jantan yang sedang jatuh cinta. Dia akan memperlihatkan keindahan bulunya untuk menarik perhatian sang betina. Yah…burung merak, yang dalam dongeng sering mempunyai karakter sombong karena keindahan bulunya itu. Tapi dalam ranah tari, kesombongan itu hampir tak  tersirat. Tari Merak lebih menitikberatkan karakternya  lincah. Seperti gerak burung merak. Terlihat dari gerak – gerak, wajah penari (yang selalu tersenyum) dan iringan tarinya.

Jika melihat tari Merak, jadi ingat sewaktu TK dan SD dulu. Pernah mendapat materi tari itu dan sempat ikut PORSENI (Pekan Olahraga dan Seni), walaupun hanya mendapat juara II. Hehehe…

Memang, tari Merak banyak ditarikan atau diberikan pada anak -anak. Baik di sekolah-sekolah ataupun sanggar – sanggar tari. Dikarenakan tema dan karakter tari tersebut ringan (tidak mengandung unsur percintaan atau peperangan). Tapi tidak menutup kemungkinan tari tersebut ditarikan perempuan dewasa.Tari Merak merupakan tari putri. Bisa ditarikan tunggal, pasangan atau kelompok.

Mengenai rias busana, tari Merak menggunakan rias cantik. Dan busananya tidak harus menggunakan jarik. Jika yang menarikan anak-anak, jarik bisa diganti dengan celana selutut. Hal itu untuk memudahkan gerak mereka. Atau jika tari Merak itu dibuat tari pasangan (ada yang berperan sebagai merak jantan dan merak betina), maka penarinya ada yang menggunakan jarik dan celana. Tergantung peran yang ditarikan.

Pada foto tersebut, busana tari Merak dari atas ke bawah terdiri dari : jamang merak, sumping (dipakai di telinga), klat bahu (dipakai di lengan), kalung kace (dipakai di leher), mekak (dipakai di badan), sayap, sampur (selendang), slepe + thothok (seperti ikat pinggang), jarik. Dengan perhiasan giwang, bros dan gelang.

Gending Lancaran Meraksubal pl (baca pelog) Barang sudah terdengar. Dan para penaripun siap menyajikan Tari Merak dengan kualitas kepenariannya yang maksimal.

Posted in Seni Budaya | Comments Off on Terinspirasi dari Keindahan Bulu dan Kelincahan Geraknya

(masih )Seputar Cinta. Hmmm…

Ketika berbicara tentang cinta, seolah tiada habisnya. Cinta begitu agung, indah, membakar emosi bahkan sampai bisa membuat begitu terpuruk dan luka. Cinta bisa menghilhami siapa saja. Tak terkecuali K.G.P.A.A Mangkunegara V. Berbekal cerita Menak, K.G.P.A.A Mangkunegoro V menciptakan tari Srimpi Pandelori. Tarian yang dibawakan oleh empat (4) penari putri dengan gandar (postur) yang sama.

tari srimpi pandelori (by dok.tv edukasi surakarta)

Tari Srimpi Pandelori menceritakan peperangan sang Dyah Sirtupelaheli putri dari Sri Karsinah yang sedang naik burung garuda melayang diangkasa mencari keberadaan suaminya sang Ambyah yang dipenjara oleh Prabu Kanyun di Parangakik. Di Kerajaan Parangakik adik dari raja Parangakik bernama Kusuma Sudarawerti ingin menolong mengeluarkan sang Ambyah dari penjara walaupun ditentang kakaknya namun ia berusaha sekuat tenaga karena dalam mimpi Kusuma Sudarawerti merasa ada wangsit bahwa sang Ambyah akan menjadi suaminya. Setelah sang Ambyah dikeluarkan dari penjara terjadilah pernikahan diantara keduanya. Dan ketika sang Dyah Sirtupelaheli bertemu dengan Kusuma Sudarawerti terjadilah peperangan. Karena semua tidak ada yang terkalahkan akhirnya semua mengakui dan menyetujui untuk berdamai dan menerima sang Ambyah menjadi suaminya bersama.

Adapun busana yang dipakai (dari atas ke bawah) adalah : jamang, cundhuk jungkat, grodha, kanthong gelung + bos, sumping, kalung, klat bahu, gelang, klambi (baju), sampur gendolo giri warna pink, slepe + thothokan, jarik lereng samparan dengan properti dhadhap dan keris gayaman kecil yang diselipkan di bagian perut sebelah kiri.

Walaupun sekarang era tehnologi, semoga Pura Mangkunegaran tetap esksis menggali dan melestarikan budaya Jawa baik berupa tari, karawitan, langendriyan maupun yang lainnya. Sehingga masyakat bisa menikmati, menghargai dan lebih mencintai budaya adiluhung negeri ini.

 

Salam budaya…

(dari berbagai sumber)

Posted in Seni Budaya | Comments Off on (masih )Seputar Cinta. Hmmm…

Supaya Bisa Sampai Finish

madu murni (foto search google)

Udara di kotaku, Solo cukup ceria. Mentari tak malu-malu menunjukkan sinarnya. Begitupun dengan sang angin. Alhasil debu-debupun tak segan untuk menari. Mungkin karena faktor cuaca dan kondisi yang kurang fit, hanya karena sedikit minum air dingin malam hari tenggorokan langsung atitttt…. ” waduh, gejala flu nie”. Dan benar saja. Pagi hari ketika bangun tidur tenggorokan gatal. Hmm…

Berhubung puasa tinggal menghitung  hari, supaya bisa menyelesaikan puasa dengan lancar dan badan tetap fit, coba minum madu dua kali sehari pada saat setelah sahur dan mau tidur dengan ukuran satu sendok makan.

Semoga tips sederhana ini bermanfaat…

Posted in Catatan Harian | Comments Off on Supaya Bisa Sampai Finish